Posted by: pUtRi on: November 19, 2007
Tak ada rotan, akar pun jadi
Tak ada raket, sampul buku pun jadi :p
Itulah yang kemarin aku n Wandi(MS 05, temen seunit) lakukan waktu nemuin kok badminton. Berhubung ga ada raket yang muncul dalam radius penglihatan mata kita berdua, jadilah kita make sampul ……BUKOM, hwehwehwe….
bukan bukom baru kok, bukom lama.
Gara2 main badminton ala kadarnya itu, aku jadi teringat masa-masa bahagia dulu (halah…)
jadi keinget permainan-permainan jaman masih kecil dulu, jaman masih lucu dan imut, masih lugu, masih innocent, belum tercemar hina-dinanya dunia. Jaman harus memutar otak agar bisa bermain dengan peralatan seadanya
Apa permainan yang sering lo-lo lakuin waktu kecil dulu?
Permainan yang dulu sering aku mainin bareng temen itu :
Bukan piring dipecahin terus main dengan belingnya lho…namanya aja yang pecah piring, tapi sebenarnya permainan ini make batu dan bola tenis. Dalam permainan ini ada satu orang yang jaga. Sebelum bermain, anak-anak pada ngumpulin batu dulu. Biasanya batu yang digunakan adalah batu yang datar, yang bisa ditumpuk. Di awal permainan, batu-batu ini ditumpuk dan disusun jadi menara. Anak yang jaga melempar bola tenis ke menara ini sampai menaranya rubuh. Nah, tugas anak-anak yang ga jaga adalah menyusun kembali menara tersebut. Anak yang jaga akan menghalangi proses rekonstruksi ulang menara ini (alah si putri, bahasanya……) dengan melempari mereka dengan bola tenis. Melempar bolanya ga boleh jalan, apalagi lari, hanya boleh melempar dari tempat berdiri/tempat memungut bola. Kalau kena, anak-yang-tidak-jaga-yang-kena bola akan tukeran dengan anak yang jaga, melanjutkan misi-menghalangi-rekonstruksi-menara-batu. Kalau menara berhasil disusun, permainan berakhir. Kalau permainan dilanjutkan, yang dapat giliran jaga adalah anak-jaga di permainan terakhir
Permainan ini mirip dengan pecah piring, cuma ga pake susun-susunan menara batu. Sama dengan pecah piring di permainan ini juga ada satu orang yang jaga yang punya senjata bola tenis. Misi si anak jaga ini adalah mengenai anak-yang-tidak-jaga dengan melempar bola tenis. Tapi si anak jaga ga boleh melempar dengan berjalan, atau berlari. Dia hanya boleh melempar dari tempat dia memungut bola. anak-yang tidak jaga juga punya senjata. Bisa kayu, sendal, atau papan kecil, yang penting bisa menangkis lemparan bola si anak jaga. Kalau nola mengenai tubuh si anak tak jaga, maka anak-jaga dan anak-tak-jaga-yang-kena-bola akan bertukar peran. Begitu terus sampai semuanya capek dan menghentikan permainan
![]()
Kalo permainan yang ini susah ngejelasinnya. Permainan ini menggunakan sepasang tongkat. Satu panjang, satu pendek, kira-kira setengah tongkat yang panjang. Para pemainnya dibagi menjadi dua tim. Satu tim main, satu tim jaga. Tim main adalah tim yang memukul tongkat, dan tim jaga bertugas menangkap tongkat yang dilempar tim main. Melemparnya bukan sembarang melempar. Tanah dilubangi, terus tongkat yang pendek ditaruh di lubang tersebut dengan posisi berdiri kira2 45 derajat dari tanah. Tongkat pendek dipukul dengan menggunakan tongkat panjang sampai tongkat kecil lompat ke udara, terus dipukul sekali lagi ke arah tim jaga. Tim jaga akan menangkap tongkat kecil tersebut untuk memperoleh nilai. Nilai yang didapat bergantung pada cara orang tersebut menangkap. Menangkap dengan tangan kiri nilainya lebih besar daripada menangkap dengan tangan kanan. Menangkap dengan 2 jari memberi nilai yang lebih besar daripada menangkap dengan lima jari, semacam itulah. Jika pemain dari tim main gagal memukul tongkat, akan digantikan oleh pemain lain dari timnya. Pemain yang gagal tidak boleh bermain lagi dlm round itu. Satu round berakhir jika satu im dapat menyelesaikan tugas memukul-tongkat-dalam-berbagai-posisi atau seluruh pemain tim main gagal memukul tongkat. Jika suatu tim berhasil menyelesaikan tugas-memukul-tongkat-dalam-berbagai-posisi dalam satu round, maka tim tersebut menang. Jika tidak ada tim yang dapat meyelesaikan tugas-memukul-tongkat-dalam-berbagai-posisi dalam satu round, permainan berhenti ketika salah satu tim berhasil menyelesaikannya dimana tim dengan nilai terbanyak yang menang
bahasa Bataknya haitensik (baca : hide and seek). Tanpa dijelaskan semua juga udah tahu permainan ini dong. Permainan dimana satu orang harus mencari teman2nya yang sedang bersembunyi mungkin udah jadi permainan tradisional yang umum. Yang seru dari permainan alip cendong ini adalah, kalau si anak jaga menemukan tempat persembunyian temannya, mereka akan adu cepat berlari ke dinding tempat anak jaga ngitung waktu teman2nya nyari tempat sembunyi. Siapa yang paling cepat menyentuh dinding itu dan bilang “CENDONG!!!!” maka dia yang menang. Permainan berakhir ketika seluruh anak sembunyi ditemukan, atau si anak jaga menyerah. Terus, selanjutnya siapa yang jaga? Untuk menentukan anak jaga berikutnya, anak jaga terdahulu akan berdiri menghadap dinding, dan anak-anak lain yang kalah berbaris di belakangnya. Anak jaga terdahulu akan menyebutkan satu angka, misalnya 3, maka anak yang barisnya urutan ketiga di belakang anak jaga terdahululah yang menyandang gelar anak jaga. Karena keharusan berlari ke dinding ini, muncul istilah “jaga-jaga tolor”. Istilah ini digunakan untuk menyebut anak jaga yang ga beranjak dari dinding jaga buat nyariin teman2nya, tetapi malah duduk/berdiri di dekat dinding jaga, jadi begitu ada temannya yang kelihatan bisa langsung di-cendong, hehehe licik ya….
Bukan, bukan bermain dengan batang bambu buat nyolok2 jambu. Permainan ini sbenarnya udah umum, cuma mungkin lebih dikenal dengan main benteng. Udah pada tahu kan?
Kalo yang ini, variannya bekel. Kalau bekel main pake bola karet dan cangkang kerang (kerang atau siput sih?), kalo yang ini pake batu. Yah, kan ga disemua tempat kita bisa nemuin bola karet dan cangkang kerang(atau siput), tapi batu kecil ada dimana2 kan? Berhubung ga pake bola karet dan cangkang, permainan ini dimodif dikit. Misalnya, kalo bekel kan bolanya dipantulin dulu tuh, kalo batu lima mana bisa. Jadi batu dilempar,ambil batu di bawah cepat2, terus tangkap lagi sebelum batu lemparnya nyampe ke tanah. Terus, batu kan ga bisa ketahuan udah dibalik atau belum, jadi ga ada level buat bolak-balikin batu. Sebagai gantinya diciptakan level lain yang ga kalah sulit.
Banyak banget nilai-nilai moral yang bisa didapat dari permainan-permainan tradisional ini. Yang paling kerasa ya teamwork. Selain itu, karena kebanyakan permainannya outdoor dan menuntut berlari-lari, badan jadi makin sehat. Ga gampang sakit, walaupun jadi ireng-ireng, hehehe
Kadang suka miris ngeliat anak-anak jaman sekarang. Mainannya PS, atau game komputer. Makanya banyak yang udah pakai kacamata padahal masih kecil. Terus karena mainannya kaya gitu, dimainin sendiri atau paling banter berdua, jiwa sosial mereka kurang. Ga heran, makin banyak orang2 oportunis di dunia ini.
Pokoknya nanti kalo aku dikaruniai anak (amin….), anak2ku akan kuajari permainan2 tradisional itu, biar mereka menikmati kenikmatan yang sama seperti aku dulu, hehe.. Tapi ntar masih ada lapangan buat main ga ya???
Dulu, waktu lo kecil mainannya apa?
Posted by: pUtRi on: September 28, 2007
Iseng2 ikutan Catur

Science, Wisdom, Knowledge, Education.
The High Priestess is the card of knowledge, instinctual, supernatural, secret knowledge. She holds scrolls of arcane information that she might, or might not reveal to you. The moon crown on her head as well as the crescent by her foot indicates her willingness to illuminate what you otherwise might not see, reveal the secrets you need to know. The High Priestess is also associated with the moon however and can also indicate change or fluxuation, particularily when it comes to your moods.
What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.
Ini maksudnya apa?
Posted by: pUtRi on: September 28, 2007
Jadi, ceritanya hari ini jam 10 kelompok tugas OSku kebagian jadwal demo.
(Note: bukan demo yang di tipi2 itu ya, demo di sini maksudnya presentasi tugas ke asisten bwt mempertanggungjawabkan tugas yang udah kita buat).
Tugas kali ini itu, ngoprek-ngoprek Fedora Core 6, mulai dari ngupdate (atau ngupgrade?) kernel, nambah system call, sampai bikin program kecil yang manggil si system call buatan kita tadi.
Koding di tugas ini sebenernya dikit banget, lagipula garis besar caranya udah dikasi tw sama asisten. Yang bikin mumet adalah waktu ngompile kernel yang luar biasa lama…dengan ga ngutak-ngatik konfigurasi kernelnya, waktu compile buat pertama kali itu bisa sampe 2 jam, padahal memori yang dialokasiin udah 400MB. Ngompile kedua dan seterusnya makan waktu sekitar 40 menit.
Padahal isi si syscallnya itu dikit banget, ga lebih dari 10 line. Untung masang Fedoranya pake VMware, jadi sambil nunggu si Feddie (apa?Feddie?) dicompile, aku bisa main di XP.
Yang paling menegangkan dari tugas ini, ya waktu demo tadi. Gimana ga, setelah melakukan ritual copy isi /boot tugas ke /boot nya Fedora, ngecek grub.conf, terus waktu booting tiba-tiba muncul kalimat :
kernel panic! terminate INIT!
(ga persis sih, tapi mirip2 itulah)
WHAT THE ****!!!!!! (Put, sabar……lagi puasa lho!!!)
Gimana ga gregetan, lha selama ngerjain tugas ini ga pernah ngalamin yang namanya kernel panic, ini kok???
Utak-atik lagi, reboot lagi, eh tetep aja kalimat nyebelin itu keluar. Kernel aja panic, gimana kita?
Cerita punya cerita, setelah kita nawarin untuk ngeboyong desktop Adnan ke kampus atau demo di kosan Adnan, kakak asistennya nawarin ngompile ulang kernel yang notabene makan waktu 2 jam. Sementara itu, kelompok lain yang juga lagi demo justru ga kena masalah kernel panic! Apa hardware kompie ngaruh ya?
Akhirnya, sambil nunggu ngompile kernel kita nyobain lagi di komputer-yang-notabene-berhasil-dikompile-tanpa-kernel-panic, dengan /boot tugas dikopi ke flashdisk, soalnya si komputer-yang-notabene-berhasil-dikompile-tanpa-kernel-panic ini ga bisa baca DVD. Komputer ini ternyata susah ngedetect flashdisk. Setelah logout, ganti sesi, reboot barulah flashdisknya Adnan kebaca.
Ngulang ritual copy isi /boot tugas ke /boot nya Fedora, ngecek grub.conf lagi, terus reboot sambil komat-kamit baca basmallah, dan akhirnya eng ing eng (SFX:drum ditabuh :lol) kernel berhasil dikompile tanpa munculnya pesan-nyebelin-bernama-kernel-panic plok plok plok
Alhamdulillah progcilnya juga jalan, setelah nambahin __NR_converter.o 324 di /usr/include/unistd.h dan ngopi converter.h ke /waduh-lupa-kemana ![]()
So, intinya buat temen2 yang belum demo, kalo bisa pilihlah komputer yang ada di sebelah kanan pintu dosen Sister (pokoknya kalo kita duduk ngebelakangin pintu masuk SIster). kalo ga bisa, bujuk2 asistennya hehehe. Gut lak, moga2 demonya sukses
Posted by: pUtRi on: July 19, 2007
Wah, dah lama blog ini ga di-update. kehabisan inspirasi
…
berhubung kena tag dari diaz jadi ada bahan lagi buat ngisi blog ini ….
here’s the rules…….
Each player of this game starts with 6 weird things about themselves. People who get tagged need to write a post of their own 6 weird things as well as state the rule clearly. In the end, you need to choose 6 people to be tagged and list their names. Don’t forget to leave a comment that says you are tagged in their comments and tell them to read your blog.
Let’s start, enam keanehan dalam diriku: Read the rest of this entry »
Posted by: pUtRi on: May 30, 2007
Pernah dapat email tentang ini di milis…
Real Programmers always confuse Christmas and Halloween because Oct31 == Dec25.
Real Programmers don’t need abstract concepts to get their jobs done, they are perfectly
happy with a keypunch, a compiler, and a beer.
Real Programmers aren’t afraid to use GOTOs.
Real Programmers can write five page long DO loops without getting confused.
Real Programmers like Arithmetic IF statements?they make the code more interesting.
Real Programmers write self-modifying code, especially if they can save 20 nanoseconds in
the middle of a tight loop.
Real Programmers don’t need comments?the code is obvious.
Real Programmers can read core dumps.
Real Programmers remember phone numbers in binary.
Mereka bilang......